<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Caksyam on Myblogrepublika</title>
	<atom:link href="http://caksyam.myblogrepublika.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://caksyam.myblogrepublika.com</link>
	<description>Sharing hikmah, doa, hadits dan pengetahuan keislaman</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Feb 2010 10:53:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Andai kita melihat &#8230;</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/andai-kita-melihat/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/andai-kita-melihat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 10:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[api]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Kisah nyata ini kami dapatkan tempo hari (17/02) dari seorang teman sebut saja namanya Angga (bukan nama sebenarnya), mungkin sedikit terperangah dengan kenyataan yang ada, namun akhirnya kami hanya bisa mencoba mengambil hikmah yang ada dan memantabkan dalam diri untuk bahan perbaikan dan renungan, hingga akhirnya kami tulis dan share dengan harapan dapat mengingatkan kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-58" style="margin-left: 5px;margin-right: 5px" title="api-syirik" src="http://caksyam.myblogrepublika.com/files/2010/02/api-syirik.png" alt="api-syirik" width="300" height="290" />Kisah nyata ini kami dapatkan tempo hari (17/02) dari seorang teman sebut saja namanya Angga (bukan nama sebenarnya), mungkin sedikit terperangah dengan kenyataan yang ada, namun akhirnya kami hanya bisa mencoba mengambil hikmah yang ada dan memantabkan dalam diri untuk bahan perbaikan dan renungan, hingga akhirnya kami tulis dan share dengan harapan dapat mengingatkan kami kembali di masa-masa yang akan datang, serta lebih bermanfaat bagi sobat sekalian.</p>
<p>Kami mencoba mengawali dengan sebuah kesimpulan kecil&#8230;, yakni &#8220;sebagian dari kita sudah pudar kepercayaannya kepada Tuhannya&#8221;. Mungkin sobat sekalian akan bertanya, koq bisa ..???, apa buktinya ?? &#8230; berikut kisah yang diceritakan Angga kepada kami.</p>
<p>Pagi itu cukup cerah, cuaca yang cukup nyaman tuk melihat lebih jauh lingkungan sekitar. Akhirnya Angga yang kebetulan kedatangan tamu, mengajak Aziz (tamunya, bukan nama sebenarnya) untuk jalan-jalan keliling kota.</p>
<p><span id="more-55"></span></p>
<blockquote><p>Aziz adalah teman Angga sejak kuliah, beliau (Aziz) memiliki karakteristik yang berbeda dengan teman-teman lainnya, cenderung pendiam, namun memiliki kecerdasan yang luar biasa. Hal ini terbukti dari kemampuan beliau untuk berbagi ilmu di berbagai bidang mata kuliah dengan teman-temannya. Sebagaimana pepatah mengatakan &#8220;diam-diam menghanyutkan&#8221;. yach &#8230; kurang lebih seperti itulah gambaran umum dari seorang Aziz.</p>
<p>Kelebihan Aziz tidak cukup di situ saja, dari pengakuan Angga selama bergaul dengannya, Aziz memiliki tingkat spiritualitas lebih dari lainnya. Hal ini terlihat dari percakapan-percakapan dan ungkapan-ungkapan bermakna mendalam yang sering dilontarkannya. Dzikir dan wirid pun tak jarang terlihat dalam diam dan jedah bicaranya.</p></blockquote>
<p>Hingga pagi itu &#8230;., yach pagi di mana Angga mengajak Aziz untuk membeli barang-barang keperluan ke pasar di pusat kota. Beberapa menit setelah masuk pasar &#8230;, Aziz menarik tangan Angga seraya berucap, &#8220;setelah memperoleh barang yang engkau perlukan, kita segera pulang &#8230;, keluar dari pasar yang sangat panas ini&#8221;. Sontak Angga pun kaget dengan bisikan Aziz, terheran ia dengan bisikan Aziz yang terkesan mengada-ada, kemudian sambil menenangkan sahabatnya yang terlihat cemas, Angga bertanya &#8230; &#8220;Ada apa ziz ..??? koq keringatmu bercucuran&#8221;. Aziz pun menjawab .. &#8220;Aku melihat api dimana-mana &#8230;, coba perhatikan pedagang itu (sambil menunjuk salah seorang pedagang) &#8230;, ia menjual api. Dan coba lihat pembeli itu &#8230;, aku heran mengapa ia membeli api?&#8221;.</p>
<p>Tersadar dengan ungkapan Aziz, Anggapun menjawab keheranan aziz, &#8220;mereka tidak bisa melihat gambaran itu sebagaimana kamu ziz &#8230;, semoga Alloh mengampuni kita semua&#8221;, kemudian ia mengabulkan permintaan sahabatnya, setelah membeli barang yang diperlukannya ia pun bergegas keluar dari area pasar. Dalam perjalanan pulang &#8230; , terbawa perasaan penasaran Angga pun bertanya kepada Aziz ..&#8221;Koq bisa yach Ziz &#8230; barang-barang tadi berubah menjadi api ??&#8221;, Aziz pun menjawab &#8220;Aku melihat &#8230; sebagian dari mereka berjualan dengan menggunakan PELET/PENGLARIS, untaian tulisan, barang dan mantra-mantra melekat pada perangkat mereka, mereka berkeyakinan bahwa dengan sarana tersebut dagangan mereka laris. Padahal &#8230; hal itu membuat mereka lupa akan kekuasaan Tuhannya, menjadikan api &#8230; atas barang-barang mereka, mereka men-dua-kan Tuhan &#8230;, bahkan tidak percaya bahwa Tuhanlah yang memberikan dan membagi secara proporsional atas rejeki yang mereka dapatkan, sehingga, akibatnya &#8230; apa yang halal &#8230; kemudian tercampur hawa api syirik yang sangat halus dan me-lena-kan, na&#8221;&#8221;udzubillahi min dzalik. Seharusnya mereka mengikuti tuntunan agama, tawakkal setelah berikhtiar, berdoa dalam mengawali setiap usaha &#8230;, bukankah kita sebagai umat Islam diajarkan untuk Shalat Dhuha, Shalat hajat, dan do&#8221;&#8221;a dengan hanya meng-esa-kanNya?, Sahabatku &#8230; semoga kejadian tadi menjadi Ibraoh bagi kita&#8221;.</p>
<p>Dengan penjelasan Aziz tersebut, Angga hanya bisa tertegun &#8230;, menunduk lesu dengan penuh rasa prihatin terhadap fenomena yang barusan dirasakan.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Bagaimana dengan kami? &#8230;, sejenak kami dan Angga mulai bermuhasabah, mengorek ingatan kami masing-masing &#8230;.. Sontak tak tertahan air mata mengalir perlahan. Kami mengingat &#8230; bagaimana terkadang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, kami teringat &#8230; bagaimana terkadang tidak mengindahkan waktu sholat ketika sibuk bekerja dan berdagang &#8230;., kami teringat &#8230; bagaimana lalai tidak mengkaji dan mendatangi majlis pengajian meski sebentar, kami teringat &#8230; bagaimana ketika bilang &#8220;Ah &#8230; itu kan hal sepele &#8230;, dosa kecil, ntar juga kehapus dengan amal yang berpahala besar&#8221;.</p>
<p>Astaghfirulloh, ya Alloh &#8230; maafkan hamba-Mu yang lalai dan lunglai ini. Kuatkanlah kami tuk menghalau nafsu ini, jadikanlah kami pribadi yang kuat dalam berucap dan berbuat .. &#8220;ini salah &#8230; tidak bisa diteruskan !!!&#8221;. Sehingga kami tidak lagi memakan api, tidak lagi dzolim terhadap &#8220;iman kami&#8221;, tidak lagi men-dua-kan Mu dalam setiap jengkal langkah kehidupan kami. Amin.</p>
<p>&#8230;..<br />
Berikut sebuah do&#8221;&#8221;a yg diajarkan oleh Rasululloh, sebagai permohonan kita kepada Alloh agar senantiasa dijaga dari syirik &#8230; sekecil apapun.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-full wp-image-57 aligncenter" title="doa-anti-syirik" src="http://caksyam.myblogrepublika.com/files/2010/02/doa-anti-syirik.jpg" alt="doa-anti-syirik" width="600" height="38" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center">(Allohumma innaa na&#8221;&#8221;udzubika min an nusyrika bika syai-an na&#8221;&#8221;lamuhu wa nastaghfiruka li-ma laa na&#8221;&#8221;lamuh)</p>
<p>Artinya : &#8220;Ya Alloh, kami berlindung pada Engkau dari syirik terhadap Engkau, yang kami sadari. dan kami memohon ampun dari sesuatu (syirik) yang tidak kami sadari&#8221;.</p></blockquote>
<blockquote><p><em>Sumber Hadits : Dari Abu Musa Al-Asy&#8221;&#8221;ari r.a. berkata bahwa suatu hari Rasululloh saw. berkhutbah di hadapan kita, seraya bersabda, &#8220;Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik, karena syirik itu lebih lembut daripada semut. &#8220;kemudian berkatalah seorang kepada beliau, &#8220;Bagaiaman kita berhati-hati kepadanya wahai Rasul, sementara dia lebih lembut daripada binatang semut?&#8221; Rasululloh saw. bersabda, &#8220;Katakanlah Allohumma inna na&#8221;&#8221;udzubika &#8230;&#8221; (HR. Ahmad dan Thabrani. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya&#8221;&#8221;la sebagaimana hadits tadi dari khudzaifah, hanya saja khudzaifah berkata, &#8220;Rasululloh saw. membacanya tiga kali&#8221;).</em></p></blockquote>
<p>Semoga bermanfaat untuk kita semua, dalam merengkuh rezeqi yang kian hari kian berkah, Amin&#8230;. Allohumma amin.</p>
<p>Yogyakarta, 18 Februari 2010<br />
Caksyam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/andai-kita-melihat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pedagang itu adalah kita &#8230;</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/blog/pedagang-itu-adalah-kita/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/blog/pedagang-itu-adalah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 07:13:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[dagang]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Caksyam-Jogjakarta (14/01) : Matahari mulai terik. Jam di HP menunjukkan pukul 06.10 wib. Doa &#8220;kalamun&#8221; dilantunkan, pertanda pengajian sehabis shubuh berakhir. Kami pun, para santri, turun dari masjid, kembali ke guthekan (kamar) masing-masing. Krucuk &#8230;., Krucuk &#8230;., Krucuk &#8230;. tanpa sengaja, perut memberikan sinyal positifnya untuk segera ditunaikan haknya, yach &#8230; &#8220;sarapan pagi&#8221;.
Akhirnya aku berinisiatif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-46" style="margin-left: 10px;margin-right: 10px" title="kaki-lima" src="http://caksyam.myblogrepublika.com/files/2010/01/kaki-lima1.png" alt="kaki-lima" width="348" height="262" />Caksyam-Jogjakarta (14/01) : Matahari mulai terik. Jam di HP menunjukkan pukul 06.10 wib. Doa &#8220;kalamun&#8221; dilantunkan, pertanda pengajian sehabis shubuh berakhir. Kami pun, para santri, turun dari masjid, kembali ke guthekan (kamar) masing-masing. Krucuk &#8230;., Krucuk &#8230;., Krucuk &#8230;. tanpa sengaja, perut memberikan sinyal positifnya untuk segera ditunaikan haknya, yach &#8230; &#8220;sarapan pagi&#8221;.</p>
<p>Akhirnya aku berinisiatif untuk membeli sarapan. &#8220;Prend &#8230; ada yang mo nitip gak?, aku mo sarapan neh&#8230;&#8221;, aku membuka percakapan tuk mengajak temen-temen santri mengisi amunisi tuk kegiatan selama seharian, yach &#8230; kebetulan hari itu adalah hari libur, jadi suasana lebih terlihat santai.<br />
Ke pasar naek sepeda onthel yuk &#8230;!!!, Sholahudin, salah seorang temanku mengajak menikmati pagi dengan bersepeda sembari menuju pasar tuk beli makanan sarapan. Okey&#8230;., aku pun mengiyakan, dalam hatiku berujar &#8230; asyik juga neh, dah lama gak bersepeda dan jalan-jalan menikmati suasana sekitar pesantren yang notabene masih banyak tumbuhan hijau dan terkesan lekat dengan suasana desanya.</p>
<p>Berempat kami berangkat, berconcengan dengan menggunakan 2 (dua) sepeda onthel. Tidak jauh dari pesantren, kami temukan beberapa hal baru, yach &#8230; di pinggir-pinggi jalan yang teduh dengan pohon rindangnya terdapat beberapa ibu rumah tangga jualan makanan khas jogja, Gudeg. Sempat ku hitung, sekitar 2-4 pedagang menjajakan masakannya di sepanjang jalanan ke pasar. hmm &#8230; meski belum pernah sekalipun aku membeli dari satu di antaranya.</p>
<p>Sekilas aku tersenyum dan bangga dengan mereka, Ibu-ibu rumah tangga. Mereka memasarkan produk masakan lokal yang khas. Berusaha membantu perekonomian keluarga, memanfaatkan waktu di pagi hari sekaligus menyiapkan sarapan untuk orang-orang seperti kami, yang cukup membutuhkan. Maklum kami adalah anak-anak perantauan yang sedang belajar. &#8230; sedetik kemudian, terbesit dalam hatiku &#8230;, mungkin esok hari aku akan beli sarapan di beberapa tempat yg kulewati. yach &#8230;, selain memenuhi kebutuhan sendiri juga saling membantu dengan saudara, dan bangsa sendiri.</p>
<p><span id="more-43"></span>Di kala itu juga, aku jadi teringat dengan pesan habib syeikh dalam sebuah kesempatan pengajian, &#8220;Yuk &#8230; dahulukan membeli barang dari saudara, sahabat, tetangga dan bangsa kita sendiri. Berikan mereka kesempatan untuk hidup, berikan kepercayaan sebagian dari kebutuhan kita kepada mereka, karena mereka bekerja untuk anak-anak mereka, yang nota bene adalah keponakan kita &#8230;., sepupu kita &#8230;, sahabat kita dan bangsa kita sendiri &#8230;&#8221;.</p>
<p>Ungkapan ini tidak serta merta datang begitu saja. Lebih lanjut beliau (habib syeikh) menjelaskan tentang keprihatinannya yang bermula dari keluhan beberapa pedagang kecil. Di antara mereka ada yang gulung tikar, kalah saing dengan supermarket besar, di antara mereka ada yg penghasilan merosot tajam akibat produk impor dalam jumlah besar. Padahal ,&#8230; barang-barang mereka tidak kalah baik, hanya &#8230; tertinggal dari &#8220;Brand Image&#8221; dan iklan-iklan. Bukankah &#8230; barang-barang di pasar lebih murah?, bukankah barang-barang di pasar lebih alami?, bukankah barang-barang di pasar bisa ditawar &#8230;.? dan yang lebih penting, bukankah barang-barang tersebut dijual untuk memberi makan bagi adik, keponakan, saudara dan sahabat kita?, mari renungkan dan mantabkan hati bersama. Pedagang itu adalah kita. yach &#8230; dari kita untuk kita, bukan untuk yg lain.</p>
<p>Nabi pun berpesan, bahwa muslim dan muslim lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan. Saling menguatkan, saling mendukung dan saling melindungi. Kalau tidak mulai dari sendir, dari sekarang &#8230;. kapan lagi. Ayo &#8230; kobarkan semangat bisnis/dagang, dukung sodara kita yg sedang berjuang mempertahankan kehidupan. Beli dengan memprioritaskan ukhuwah serta persaudaraan. Karena kita sendirilah yang diuntungkan.<br />
Bukankah kita akan bangga, jika kita, saudara kita, tetangga kita, adik kita bangsa kita &#8230;. menjadi orang-orang yang kaya, atau paling tidak berkecukupan?, jika jawaban kita adalah &#8220;YA&#8221;, maka &#8230; mari mulai bersama-sama berjuang dari sekarang, menyisihkan gengsi dan ego kita dengan memprioritaskan pembelian produk-produk lokal/nasional.</p>
<p>Semoga menjadi bahan perenungan. Umat islam harus kaya &#8230;., bangsa Indonesia harus kaya &#8230;., hingga mereka semua memiliki bekal yang cukup untuk beribadah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/blog/pedagang-itu-adalah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghafal Alquran Karena Malu kepada Alloh</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/menghafal-alquran-karena-malu-kepada-alloh/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/menghafal-alquran-karena-malu-kepada-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 08:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[alquran]]></category>
		<category><![CDATA[tahfidz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Berbagai hal bisa memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu, bahkan hal-hal yg mustahil &#8230;, namun satu hal bisa kita perhatikan &#8230; yakni ketika manusia termotivasi, tidak jarang muncul kekuatan tersembunyi dan potensi tinggi menyertai usaha dan semangat tinggi dalam diri.
Mungkin terlalu dini dan idealis &#8230; jika mengungkap sesuatu hal positif yang dilakukan hanya karena Alloh, jujur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbagai hal bisa memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu, bahkan hal-hal yg mustahil &#8230;, namun satu hal bisa kita perhatikan &#8230; yakni ketika manusia termotivasi, tidak jarang muncul kekuatan tersembunyi dan potensi tinggi menyertai usaha dan semangat tinggi dalam diri.</p>
<p>Mungkin terlalu dini dan idealis &#8230; jika mengungkap sesuatu hal positif yang dilakukan hanya karena Alloh, jujur &#8230; berbeda dengan para Nabi dan Rasul, sebagian dari kita adalah manusia biasa, namun satu hal yang dapat ditarik sebuah garis merah &#8230;( sebagaimana Alloh menciptakan dunia beserta isinya melalui apa yang dinamakan dengan &#8220;Sunnatulloh&#8221;) &#8230; SEMUA BUTUH PROSES.</p>
<p>hmm  .. . berkenaan dengan apa yg kami utarakan di atas, jadi teringat sama kenang-kenangan diskusi singkat kami bersama salah seorang sahabat, tentang berbagai hal &#8230; termasuk motivasi untuk menghafal Quran.<br />
<span id="more-38"></span><br />
Kritis &#8230; terlalu idealis &#8230; sangat optimis, mungkin sebagian dari kita akan terperangah ketika bertemu dengan sahabat dengan &#8220;spesifikasi&#8221; demikian, termasuk saya &#8230;. ^_^, hehehehe &#8230;<br />
Suatu saat &#8230; selepas beraktifitas, kami bersama seorang teman tanpa sengaja mengawali sebuah diskusi yang panjang &#8230;., sebagaimana biasa, waktu luang itu kumanfaatkan untuk refreshing dengan mengutak-atik Blog &#8230;, nulis dan FB-an &#8230; (hayuuu &#8230; kamu ketahuan).., duduk kurang lebih 1,5 meter di sampingku &#8230; diapun langsung menggelontorkan &#8220;Bola panassss&#8221; &#8230;, sebuah pertanyaan &#8230;</p>
<blockquote><p>
Temanku : Cak &#8230;, boleh nanya gak?<br />
Me : Boleh-boleh &#8230;., tapi tak sambi yach &#8230;., gpp kan ?<br />
Temanku : yupz &#8230; gpp &#8230;<br />
Me : Mo nanya apaan&#8230;. kayaknya penting banget?<br />
Temanku : hmm &#8230; tentang kondisi pemuda/i islam yang memprihatinkan &#8230;<br />
Me : maksud lho &#8230;.??? [ agak kaget aku dengan pertanyaan ini - coz aku manusia biasa, suerr ..... idealis banget dah...]<br />
Temanku : jadi begini cak &#8230;, beberapa kali aku diskusi dengan temen&#8221; yg notabene berpendidikan agama, koq cenderung ngawur yach&#8230;???, mereka senang dan Pede dgn pendapat&#8221; pribadi dengan hanya bermodalkan logika tanpa mencantumkan &#8220;dasar&#8221; mana yang mereka gunakan, udah jelas salah &#8230; bangga lagi, debat kusir dah jadinya &#8230;..
</p></blockquote>
<p>Sejenak &#8230; 10 jariku berhenti bekerja,  konsentrasiku terpecah &#8230;., otakku mulai melalang buana ke mana-mana, mencoba mengais file-file referensi yang pernah kubaca baik secara mandiri maupun dengan metode musyawarah&#8230;.</p>
<p>Apa jawabku &#8230;.???<br />
hehehe &#8230; jujur jawaban  itu g penting untuk diungkap di sini, lho koq bisa &#8230;???, dari pertanyaan temenku di atas &#8230; sudah jelas apa yg menjadi &#8220;permasalahan&#8221; di sini, dan kami yakin temen&#8221; sudah tahu jawabnya &#8230;. yach .., meski dengan versi yang berbeda&#8230; [g usah terlalu dipikir.... entar paham sendiri] &#8230;</p>
<p><b>hingga di suatu titik &#8230; </b><br />
Setelah kami berdiskusi cukup panjang, ada ending menarik yang cukup bernilai untuk dibagikan. Setelah berbicara ngalor ngidul (kemana-mana), temenku mengungkapkan sebuah fakta menarik &#8230;.. bahwa dia menghafal Quran karena malu kepada Alloh &#8230; , Lho&#8230; asal-usulnya darimana koq bisa berkata demikian &#8230;???, berikut kisah singkatnya.</p>
<p>Beberapa saat yang lalu .. temenku &#8220;yg hebat&#8221; ini lulus dari kuliahnya &#8230;, sebagaimana biasa, dia banyak sekali mengirimkan lamaran kerja &#8230; bahkan hingga keluar kota, mulai dari lowongan kerja di Pabrik, Instansi akademik, hingga pemerintahan &#8230;., hampir semua peluang tidak ia sia-siakan &#8230;..</p>
<p>Waktu itu &#8230; dia belum selesai (tahfidznya), bahkan terkesan separuh-separuh dalam menghafalkan Quran,&#8230; &#8221; lebih baik, daripada tidak sama sekali&#8221; &#8230;. begitulah pendiriannya (waktu itu).</p>
<p>Hari berganti hari &#8230; minggu pun berlalu, hingga bulan pun secara rutin terus berganti &#8230; tanpa hasil yang berarti. Tidak ada informasi tentang lamaran kerja yang ia layangkan, tidak ada panggilan wawancara yang senantiasa ia nantikan, hingga berbuah sebuah keputusasaan &#8230; di tengah usahanya, di tengah kegiatan selingannya &#8230; &#8220;menghafalkan alquran&#8221;.</p>
<p><b>Di suatu malam&#8230;</b><br />
Sebagai orang yang beriman &#8230; tentu tak layak meninggalkan &#8220;Tuhan&#8221;. Keheningan malam pun ia pecah dengan gerakan beraturan &#8230; shalat malam. Dengan tetesan air mata, dengan hati yang gundah &#8230; dengan pikiran yang tak jelas arah, perasaanpun turut merana &#8230; (komplit dah&#8230;.), ia menengadahkan tangan seraya berdo&#8221;&#8221;a dan sangat berharap jawaban serta belas kasihan Sang Pencipta Alam &#8230;</p>
<blockquote><p>
Ya Alloh &#8230; dengan takdirMu aku di perantauan &#8230;.<br />
Ya Alloh &#8230; dengan keMahaTahuanMu &#8230; aku dalam kesulitan yang kelam<br />
Ya Alloh &#8230; KeputusanMu begitu Indah &#8230; hingga aku mengerti hikmah di dalamnya &#8230;<br />
Ya Alloh &#8230; segala usaha telah kucoba &#8230; tak sepeserpun kudapatkan rupiah &#8230;<br />
Ya Alloh &#8230; dengan kesempatanMu aku berusaha mendekap Kalam Mu, namun apa daya &#8230; telah habis bekalku&#8230;<br />
tak mungkin ku kembali dengan tangan hampa &#8230;<br />
tak mungkin ku membalikkan arah kapal dengan bermodalkan kibaran bendera saja &#8230;<br />
haruskah ku pupus asaku &#8230;?<br />
haruskan ku hentikan langkahku &#8230;?<br />
adakah yang salah denganku &#8230;?<br />
ku mohon petunjukMu &#8230;
</p></blockquote>
<p>Di malam itu &#8230; sahabatku benar-benar merasa dalam kebimbangan, benar-benar dalam kondisi nadhir yang tak terlekkan &#8230; bahkan tidak pernah ia bayangkan, hingga pada akhirnya &#8230; ia pun meyakinkan dirinya &#8230; lewat sebuah do&#8221;&#8221;a</p>
<blockquote><p>
Ya Alloh &#8230; dengan segala kelemahanku, aku tak sanggup mendekap kalamMu<br />
habis bekal ini&#8230;. habis darah ini&#8230; kering kerontang keringat ini &#8230;., dan akupun merasa sungguh sendiri<br />
Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku<br />
Engkau lebih mengerti apa yang salah di dalam hati<br />
&#8230;<br />
dan akupun siap kembali meski tanpa hasil yang berarti &#8230;<br />
Ya Jabbar &#8230; aku hanya bisa berpasrah diri<br />
Di bawah naungan ridlo-Mu&#8230;<br />
Di bawah takdir indah-Mu &#8230;<br />
Di bawah rahasia keputusan-Mu&#8230;</p>
<p>Yaa muqollibal quluuub&#8230; tsabbit quluubana &#8221;&#8221;ala dinik<br />
Yaa mushorrifal quluub &#8230; shorrif quluubana &#8221;&#8221;ala tho&#8221;&#8221;atik
</p></blockquote>
<p><b>Pagi hari itu &#8230;</b><br />
Selepas malam itu &#8230; ia berkemas untuk Boyong (keluar dari pesantren), &#8230; hingga kemudian pada sekitar pukul sepuluh pagi &#8230; HP sahabatku berbunyi, percakapan luar biasa pun terjadi</p>
<blockquote><p>
Penelpon : Hallo &#8230; Assalamu&#8221;&#8221;alaikum &#8230; !!!<br />
Sahabatku : Wa&#8221;&#8221;alaikum salam &#8230;, ini siapa yach..???<br />
Penelpon : oh kami perwakilan dari perusahaan X &#8230;, ini benar Mr. Y<br />
Sahabatku : Oh yach benar &#8230; ada yang bisa dibantu?<br />
Penelpon : Begini mas &#8230; kami mendapatkan referensi dari pimpinan kami untuk interview kerja di tempat kami.<br />
Sahabatku : ow&#8230; begitu, dimana dan kapan pak..???<br />
Penelpon : Di kantor kami,Siang ini, selepsas dhuhur&#8230;, mas bisa kan..???<br />
Sahabatku : Oh ..bisa&#8221;, insyaAlloh kami hadir&#8230;.<br />
Penelpon : OK, thanks yach &#8230;kami tunggu, wassalamu&#8221;&#8221;aikum<br />
Sahabatku : Wa&#8221;&#8221;alaikum salam
</p></blockquote>
<p>Dengan wajah dan raut muka keheranan, sahabatku seakan bingung dan mencoba mengulang kembali semua ingatan. Dengan sangat yakin ia menceritakan &#8230; bahwa ia tidak pernah mengajukan lamaran kerja di perusahaan X yang tak seberapa jauh dari tempat tinggalnya.</p>
<p>Hari itu sungguh sebuah sejarah dalam hidupnya, sekali lagi &#8230; Alloh telah menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya. Betapa tidak &#8230; sungguh di luar logika, ia diterima kerja di perusahaan yang belum pernah kenal sebelumnya, hanya bermodal review dan surat kesediaan saja.</p>
<p>Sejenak ia termenung .. seakan tak percaya, hingga akhirnya ia sadar, bahwa kesempatan itu adalah bukti kebesaran Alloh dan RidloNya &#8230; akan langkah sucinya dalam mendekap kalamNya. Sungguh Alloh telah memuluskan jalanNya &#8230; bagi siapa saja yang menuntut ilmu dan memperjuangkan agamaNya. Allohu Akbar &#8230;!!!, seketika itu pula sahabatku tersungkur &#8230; sujud di balut dengan tangisan, rasa syukur bercampur dengan kekaguman &#8230; akan kebesaran TuhanNya &#8230;, sebagaimana dalam FirmanNya ( &#8220;jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu&#8221; [QS.47:7].)</p>
<p>&#8230; Dengan mata berkunang, diapun memberikan sebuah pernyataan penuh kenyataan &#8220;AKU MENGHAFAL QURAN KARENA MALU KEPADA ALLOH&#8221; &#8230;, Alloh telah memberikan semua bekal untuk perjuanganku, melapangkan jalan ibadahku &#8230; dan mengabulkan do&#8221;&#8221;a serta permintaanku &#8230;., setelah semua telah nyata &#8230; adakah aku sebagai hamba yang beriman ..???., jika tidak memanfaatkan ni&#8221;&#8221;mat yang diberikan&#8230;???, bukankah aku hamba yang durhaka &#8230; jika memalingkan nikmat yang ada &#8230;, tidak untuk mendekap kalamNya &#8230;???</p>
<p>======================================</p>
<p>Sejenak .. mencoba mengambil sebuah pelajaran dari kisah ini, akupun mulai melihat ke dalam hati &#8230; ke dalam jiwa, instropeksi diri &#8230;, Adakah nikmat Alloh yang aku dustakan&#8230;???, jangan-jangan &#8230; jangan-jangan &#8230; ,  astaghfirulloh &#8230;, Ya Alloh &#8230;. hanya dengan petunjukMu aku melihat&#8230;, hanya dengan pertolongaMu aku menjadi tahu&#8230;, hanya dengan kekuasaan dan kekuatanMu aku sanggup untuk terus maju &#8230;.</p>
<p>semoga bisa diambil sebuah hikmah &#8230; amin.<br />
Yogyakarta, 09 Nopember 2009<br />
<a href="http://nambas.blogdetik.com">Caksyam.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/menghafal-alquran-karena-malu-kepada-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ikhlash lewat Doa</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/belajar-ikhlash-lewat-doa/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/belajar-ikhlash-lewat-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 07:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[do''a]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlash]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/belajar-ikhlash-lewat-doa/</guid>
		<description><![CDATA[Amin &#8230; amin&#8230; amin&#8230;., seorang temenku dengan khusu&#8221;nya berucap ketika mendengarkan percakapan penuh do&#8221;a. &#8220;hoey &#8230; ngomong dong !!!, amin melulu ..&#8221;, seorang temenku yg laen dengan nada guraunya protesss &#8230;., kemudian sang pengucap &#8220;amin&#8221; pun menjawab : &#8220;lho kan sayang..low ada yg memuji, berucap baek dan berangan-angan klo tidak di amini, ntar klo ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Amin &#8230; amin&#8230; amin&#8230;., seorang temenku dengan khusu&#8221;nya berucap ketika mendengarkan percakapan penuh do&#8221;a. &#8220;hoey &#8230; ngomong dong !!!, amin melulu ..&#8221;, seorang temenku yg laen dengan nada guraunya protesss &#8230;., kemudian sang pengucap &#8220;amin&#8221; pun menjawab : &#8220;lho kan sayang..low ada yg memuji, berucap baek dan berangan-angan klo tidak di amini, ntar klo ada malaekat lewat gmana ???&#8230;., kesempatan g musthi datang dua kali lho&#8230;. hehehehe&#8221;.</p>
<p>Mengingat kejadian tersebut, aku senantiasa tersenyum&#8230;. dan mengamini meski dari sudut pandang yang berbeda. do&#8221;a &#8230; do&#8221;a dan doa &#8230; sebuah bentuk penghambaan lewat kata-kata, pengakuan atas kelemahan, pengharapan atas karunia dan kejujuran inderawi atas kebutuhan akan sentuhan ridlo dari Yang Maha Esa dan Pengabul segala apa yang terbaek bagi hamba-Nya.</p>
<p>Udah terbiasa berdo&#8221;a &#8230;???, kami yakin setiap insan dengan penuh keyakinan akan menjawab &#8220;Ya&#8230;&#8221;, dan memang itulah seharusnya, lalu untuk siapakah do&#8221;a tersebut dilantunkan&#8230;???, &#8230;Dalam salah satu unsur khutbah jum&#8221;at &#8230; terdapat &#8220;Do&#8221;a untuk umat islam secara keseluruhan&#8221;, adakah yang aneh disitu? .. mari coba kita tengok lebih jauh.<br />
<span id="more-36"></span><br />
Ketika seseorang berdo&#8221;a dalam keadaan membutuhkan, secara otomatis akan berdo&#8221;a dengan sungguh-sungguh, khusyu&#8221; bahkan tidak segan-segan untuk membiarkan mata mengurangi hak lebihnya (bangun di tengah malam), dan tubuhpun mengamini dengan setianya, dengan bahasa lain dapat kita sebut dengan &#8220;Berdo&#8221;a dengan penuh keikhlashan&#8221;. Demikian pula ketika terdapat kerabat, keluarga, teman atau orang dekat kita tertimpa musibah/masalah &#8230; beberapa dari kita pun rela untuk &#8220;Berdo&#8221;a dengan penuh keikhlashan&#8221;, tanpa berharap &#8220;kembalian&#8221; atas harga lebih yang kita berikan. Sudahkah do&#8221;a itu karena Alloh &#8230;..? (hmmm &#8230;.).</p>
<p>Suatu saat kami bertemu dengan seorang teman, kebetulan bersama dalam satu bus untuk kursus. Kebetulan saat itu bus lumayan penuh, sehingga kami pun terpaksa duduk sambil berdiri (&#8230;heheh, jangan di bayangin duduk sambil berdiri tuh kayak apa &#8230;, intinya bayar tetep sama, fasilitas berbeda). Di tengah perjalanan terdapat seorang Ibu hamil naek di bus yg sama, tentunya musti berdiri juga karena kursi sudah terisi semua. Tiba-tiba terdapat seorang kakek berdiri dari kursinya dan mempersilahkan ibu hamil tersebut untuk menggantikannya, dengan senyum sumringah sang kakek mempersilahkan &#8220;Bu silahkan dduduk di sini saja &#8230;.., biar g lelah&#8221;.</p>
<p>Seketika itu kudengar bisikan temanku bergumam sambil menengadahkan tangannya, &#8220;Subahanlloh &#8230;., Allohummaghfirlahu &#8230; warhamhu..wa&#8221;afihi&#8230;wa&#8221;f &#8221;anhu&#8221;. Dengan heran aku pun jadi pengen usil dengannya &#8230; akhirnya ku ajukan pertanyaan yang usil pula karena penasaran, &#8220;Pren &#8230; barusan ente ngapain, koq baca do&#8221;a yang dibaca saat shalat jenazah &#8230;.?&#8221;&#8230;., hehehehe &#8230; temenku tersenyum, memahami keherananku. Entar aja jawabnya ..klo dah nyampe., &#8220;OK Bosss &#8230;.&#8221;, aku mengiyakan permintaannya.</p>
<p>Pak sopir pun menginjak pedal remnya, ketika kami dibantu sang kondektur bilang &#8220;kiri &#8230;.kiri &#8230;kiri Pak !!&#8221;,  dan akhirnya sampailah kami beberapa meter dari tempat tujuan. Sambil jalan temenku memenuhi janjinya&#8230;, dia pun menjelaskan, &#8220;tadi aku berdo&#8221;a &#8230; sebagai simbol kekaguman, penghargaan dan penghormatanku terhadap Sang kakek, adapun do&#8221;a shalat jenazah tersebut&#8230;. cobalah untuk diperhatikan lebih cermat, bukankah artinya &#8230; Ya Alloh ampunkanlah dia, rahmatilah dia &#8230;.dst???, namun aku g menambahkan wa wassi&#8221; madkholahu (luaskanlah kuburannya) , karena dia belum mati&#8230;ckckkckckck&#8221;. oooo gitu..aku menjawab, dan kami pun berlalu sambil ketawa ketiwi &#8230; akan keusilan kami, hehehe&#8230;<br />
dalam hati kecilku &#8230;. mengatakan &#8220;Subahanalloh&#8230; luar biasa, meski g kenal&#8230; sobatku berdo&#8221;a dengan ikhlashnya untuk sang kakek&#8221;.</p>
<p>&#8230;&#8230;..</p>
<p>Senada dengan kondisi di atas, sering juga kita temukan sebuah keikhlasan dari Sang kyai atau para ulama yang dengan mudahnya mendo&#8221;akan saudaranya sesama islam meskipun belum kenal, tidak tahu dan bahkan belum pernah bertemu &#8230;.. dan justru do&#8221;a semacam inilah merupakan salah satu jenis do&#8221;a yang mustajabah, atau dikabulkan oleh Alloh SWT. Jujur &#8230; cobalah sesekali kita tanpa sebab yang jelas mendo&#8221;akan orang-orang yang tidak kita kenal &#8230;, tidak pernah bertemu langsung&#8230;. dan tidak ada sama sekali sangkut paut dan kepentingannya dengan kita &#8230;., apa yg kita rasakan????, sia-sia &#8230;.???, senang karena berbuat baik &#8230;??? atau  ada perasaan yg lain..????, tentu hanya masing-masing dari kita yang bisa menjawabnya dengan tepat. Di sinilah mental keikhlasan mulai dilatih&#8230;..</p>
<p><b>Apa manfaat dari ringan do&#8221;a?</b><br />
Salah satu jawabnya sudah jelas&#8230;..yakni belajar &#8220;IKHLASH&#8221;. Tentunya hal ini menjadi pertanyaan besar ditengah perkembangan budaya kapitalis dan individualis &#8230;.dalam pribadi modern dewasa ini&#8230; (WOW &#8230; koq jadi berratttt yach bahasanya&#8230;heheheh, yach MAAF &#8230;..!!!).</p>
<p>Ketika seseorang berdo&#8221;a untuk orang lain, tanpa harap pamrih, tanpa ada efek secara pribadi &#8230; tentu merupakan salah satu bentuk sebuah keikhlasan. Maka di sinilah sebenarnya sebuah momen penting bagi seseorang untuk &#8220;belajar dikabulkan do&#8221;anya&#8221; &#8230;. (keterangan hadits), untuk belajar mengasah perasaan, hati dan keihlasannya, hingga pada akhirnya menjadi hamba yang senantiasa bahagia dengan melihat orang lain bahagia, peduli dengan lingkungannya dan InsyaAlloh senantiasa dekat dengan Tuhannya lewat do&#8221;a-do&#8221;a di media non-formalnya &#8230;.. (Spontanitas di luar shalat, dzikir &#8230;)</p>
<p>Lebih lanjut kami ingin menyampaikan sebuah hadits&#8230;.&#8221;Perbanyaklah permohonan do&#8221;a kebaikan untukmu (kepada siapa saja), karena sesungguhnya engkau takkan pernah tahu, do&#8221;a siapa yang dikabulkan&#8230;.&#8221;. Nah &#8230; dari keterangan hadits&#8221; di atas, terdapat salah satu garis merah yang bisa diejawantahkan, yakni hubungan antara terkabulnya do&#8221;a dan keihkhlasan (bebas nilai).</p>
<p>Mari kita saling mendo&#8221;akan &#8230;. semoga kita semua memperoleh yg terbaik dari Yang Maha Esa, dan kita semua menjadi hamba-hambanya yang shalih dan kholish &#8230;., tentu tidak ada lagi yang meragukan kualitas orang yang ikhlash &#8230;.. terlebih lagi dalam hal ibadah dan beramal (keterangan hadits).</p>
<p>Allohummaj&#8221;alnaaa minas shalihiiiin &#8230;. Allohummaj&#8221;alna minal kholishiiin &#8230;3x<br />
(Ya Alloh jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang Soleh dan jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang Ikhlash &#8230;.) . Amiiin&#8230;, semoga&#8230;.</p>
<p>PP. Pandanaran, 26 Oktober 2009.<br />
Caksyam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/belajar-ikhlash-lewat-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggapai Dunia dengan Mencoba dan Berdoa</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/kuasai-dunia-dengan-mencoba-dan-berdoa/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/kuasai-dunia-dengan-mencoba-dan-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 05:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[do''a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas mungkin tulisan ini terkesan mengada-ada bahkan bisa dianggap tidak ada&#8230;., namun ketika berkaca bahwa &#8220;Dunia adalah ladang akhirat&#8221;&#8230; hmmm, kayaknya musti dishare aja neh&#8230;.
Pagi ini (21/10) &#8230; kucoba tuk perhatikan suatu kondisi sunyi dan sepi, kegiatan klik sana dan klik sini pun mewarnai starting point aktifitas di awal hari. Ku membayangkan &#8230; betapa hebatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekilas mungkin tulisan ini terkesan mengada-ada bahkan bisa dianggap tidak ada&#8230;., namun ketika berkaca bahwa &#8220;Dunia adalah ladang akhirat&#8221;&#8230; hmmm, kayaknya musti dishare aja neh&#8230;.</p>
<p>Pagi ini (21/10) &#8230; kucoba tuk perhatikan suatu kondisi sunyi dan sepi, kegiatan klik sana dan klik sini pun mewarnai starting point aktifitas di awal hari. Ku membayangkan &#8230; betapa hebatnya Sang Pencipta Alam, menciptakan dunia bukan hanya dengan segala isinya&#8230;pun juga berbagai macam tantangan di dalamnya.</p>
<p>Lomba&#8230;,kompetisi&#8230;, sayembara berhadiah dan apapun namanya&#8230;, begitu kental mewarnai media informasi, terlebih lagi di dunia maya. Siapakah pemenangnya..???, jawaban yang bisa dimunculkan pertama kali tanpa harus punya ilmu laduni adalah &#8230;. &#8220;Orang yang berani mencoba&#8221;, tanpa terdaftar sebagai peserta lomba&#8230;tentu sangat kecil kemungkinan, bahkan mustahil untuk menjadi salah satu pemenangnya (betull..tidakkkk&#8230;???? ^_^).<br />
<span id="more-24"></span><br />
Kenyataan yang mencengangkan pun kami temukan, dalam sebuah lomba foto senilai puluhan juta rupiah&#8230;., hanya diikuti oleh 7 (tujuh) peserta. Tak pelak&#8230; ranking terakhir pun (ke-7) mendapatkan penghargaan senilai 7,5 juta rupiah, hanya dengan modal partisipasi/coba-coba saja (sumber: kompas online). Coba bayangkan klo kita narik becak &#8230;wuihhhhh&#8230; bisa hujan keringat &#8230;heeheheheh</p>
<p>Hal ini juga berlaku ketika tanpa sadar kita sudah berada dalam lingkaran besar kehidupan&#8230;, yang pasti harus terarah tuk menggapai derajat yang mulia di sisi-Nya. Tentu tidak ada yang membantah bahwa Alquran dan hadits adalah pedoman utama Islam dan penganut di dalamnya. Pertanyaan logis pun muncul &#8230; sudahkah keduanya dibaca ???. &#8220;Wah ngeri mas&#8230;. tulisannya aja krebo/bulet-bulet&#8221;&#8230; ujar salah seorang sahabat menyatakan keluh kesahnya, lalu aku pun bertanya &#8230; &#8220;Sudahkah mencoba&#8230;???&#8221;, dan ia pun menjawab &#8220;Belum&#8230;&#8221; (nah..lhoooo).</p>
<p>Mencoba adalah suatu bentuk usaha &#8230; apapun hasilnya, tentu bukanlah segalanya. Bahkan Nabi (Muhammad s.a.w) pun pernah memotivasi kita semua lewat haditsnya, &#8220;Ketika seseorang berencana untuk melaksanakan kebaikan dan ia tidak melaksanakannya, maka Alloh akan memberinya satu pahala, lebih dari itu, jika seseorang berencana untuk melaksanakan kebaikan dan ia melaksanakan rencananya itu&#8230; maka Alloh akan memberinya dua pahala bahkan akan dilipatkan hingga hitungan tak terbatas (hak prerogratif Alloh)&#8221;. Sekecil apapun usaha kita ..akan meninggalkan setitik cercah dalam sejarah keberhasilan.</p>
<p>santai dulu&#8230;., nulis titik-titik &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; hehehe ^_^</p>
<p>lanjuttt&#8230;.</p>
<p>Senada dengan logika &#8220;Mencoba&#8221; di atas&#8230;, aku pun membayangkan &#8220;Bagaimana dengan orang-orang yang berdo&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a di tengah malam&#8230;????&#8221;.</p>
<p>Tentu tidak ada yang meragukan akan ke-Maha Esaan Alloh tuk menjawab semua do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a serta ke-Maha tahuannya akan isi hati serta seluruh titik terkeci alam jagad raya, dan tidak ada pula yang tidak mengamini ayat Alquran yang berisi pesan bahwa Alloh akan meninggikan derajat para &#8220;Batman&#8221; yg melekatkan dahinya, melepaskan seluruh ego, jabatan dan kekayaannya tuk menghadap Tuhan-Nya&#8230;. tuk mengharap ridlo-Nya&#8230; tuk menggapai yang terbaek dari-Nya.</p>
<p>Pertanyaannya &#8230; klo gak berdo&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a (meminta) apa akan dikabulkan&#8230;???</p>
<p><b>Suatu rahasia di balik do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a &#8230;</b></p>
<p>Salah seorang sahabat (seorang psycho terapis) pernah menyampaikan, bahwa diakui atau tidak seseorang dipengaruhi oleh alam bawah sadar (pernah lihat live show &#8220;Romi Rafael&#8221;..???, yach ..kurang lebih gambarannya seperti itu&#8230;. ). Ketika seseorang melantunkan do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;anya di hadapan Tuhan-Nya&#8230; di tengah malam yang lelah, di tengah kesunyian yang nyata &#8230; dan hanya bisikan halus dari ucapan do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a yg didengarnya &#8230; maka memory/ingatan akan merekam segalanya, setiap keinginan dan cita-cita akan lekat di sanubari dan hati (alam bawah sadar)&#8230; dan secara tidak disadari akan memompa gerakan tubuh dalam bentuk tindakan untuk mewujudkannya, untuk mencoba  mensukseskan cita-citanya&#8230; untuk action !!!!.</p>
<p>Dalam pungkasnya &#8230; sahabat (kami) tersebut menganjurkan &#8230; Ucapkanlah do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a sehingga terdengar dan diresapi oleh setiap panca indera.</p>
<p>Yuk&#8230; terus mencoba dan berdo&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a !!!.<br />
Kesempatan adalah milik mereka yg mencoba &#8230;<br />
dan terkabulnya do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a adalah untuk mereka yang meminta.<br />
Sukses untuk kita semua&#8230;.. bismillah.</p>
<p>Yogyakarta, 21 Oktober 2009<br />
Caksyam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/kuasai-dunia-dengan-mencoba-dan-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ustadz Punk</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/ustadz-punk/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/ustadz-punk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 16:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang baru dalam hidupku &#8230;, beberapa waktu yg lalu kukenal keponakan dari adik iparku sebut saja namanya &#8220;Kipli&#8221;&#8230; hmmm, jadi ingat film mencari Tuhan..eh bukan, sinetron &#8220;Kiamat sudah dekat&#8221; &#8230;hehehehe
awalnya kukenal dia biasa-biasa saja&#8230;, dan jujur gak banyak tahu tentangnya. Kemudian di lebaran tahun ini [1430 H] sedikit berbeda&#8230;.
&#8220;Assalamu&#8221;alaikum..! &#8221; terdengar salam dari depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang baru dalam hidupku &#8230;, beberapa waktu yg lalu kukenal keponakan dari adik iparku sebut saja namanya &#8220;Kipli&#8221;&#8230; hmmm, jadi ingat film mencari Tuhan..eh bukan, sinetron &#8220;Kiamat sudah dekat&#8221; &#8230;hehehehe</p>
<p>awalnya kukenal dia biasa-biasa saja&#8230;, dan jujur gak banyak tahu tentangnya. Kemudian di lebaran tahun ini [1430 H] sedikit berbeda&#8230;.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8221;alaikum..! &#8221; terdengar salam dari depan rumah, &#8220;wa&#8221;alikum salam&#8221; .. kujawab salam itu sambil membuka pintu pagar dan &#8230;. kaget bukan kepalang, mataku sedikit melotot ..seakan tak percaya melihat tamu yang satu neh&#8230; , gaya rambut botak samping, agak merah, rambut berdiri di bagian tengah, pake jaket levis ketat dengan khas manik besi dan &#8220;baut&#8221; mungkin yach&#8230;ckckck, ditambah lagi celana model paku bumi (ketat membentuk postur kaki, lancip ke bawah&#8230;. silahkan dibayangkan sendiri, hehehe maaf ngerepotin&#8230;), pokoknya aseli punk dagh&#8230;.</p>
<p>&#8220;Silahkan masuk&#8230;&#8221;, ku berkata &#8230;., &#8220;Mhn maaf lahir bathin yow mas.. lama g ketemu, hehehehehe&#8221;, dia langsung menjabat tanganku &#8230; , jujur aku pangling (agak lupa-lupa ingat) dengan sodara jauh satu neh&#8230;. coz gayanya yg berubah total, jarang ketemu lagi ..<br />
<span id="more-19"></span><br />
&#8220;Aku kipli mas&#8230;.&#8221;, dia berusaha meyakinkanku bahwa aku terkenal&#8230;., eh bukan dia kenal aku hihihihihi&#8230;, akhirnya kami pun ngobrol seputar keadaan sodara-sodara..layaknya lebaran biasa&#8230;.. [ kayak di TV-TV ... ^^ ]</p>
<p><b>Hingga suatu saat&#8230;</b><br />
Jujur&#8230; aku masih penasaran dengan perubahan sodara yg satu neh&#8230;, namun kutahan untuk bertanya &#8220;ada apa gerangan&#8230;???&#8221;, khawatir terjadi persinggungan sisi-sisi sensitif&#8230;.,<br />
Akhirnya hari ini kutemukan jawaban itu &#8230;, Siapakah kipli sebenarnya dan ada apa dengan gaya punk ?</p>
<p>Adik iparku menjelaskan &#8230; kipli adalah keponakannya, anak seorang MUDIN ( pejabat pengurus nikah, kematian dsb. ), pun di halaman rumahnya terdapat masjid dan madrosah serta tempat pengajian bagi masyarakat sekitar&#8230;., setiap habis subuh dan ketika jam sekolah&#8230; Kipli mengajar beberapa mata pelajaran, termasuk menyampaikan beberapa kajian kitab kuning semisal FATHUL MU&#8221;IN. .. sehingga tak heran banyak kutemukan anak-anak kecil di daerahnya memanggil kipli dengan sebutan &#8220;USTADZ&#8221;, tentunya ngajarnya tidak pake gaya PUNK &#8230;hehehehe</p>
<p>Adapun berkenaan dgn gaya &#8220;punk&#8221;, hal itu sengaja dilakukan sebagai salah satu kontrol sosial, lho koq bisa&#8230;????, dari informasi yang kuterima, tidak sedikit teman-teman dari Kipli atau pemuda di daerah-daerah yang kurang beruntung&#8230; namun tetap kekeh mengikuti gaya yang dianggapnya mengikuti jaman&#8230;. aneh, mengundang perhatian dan sangar&#8230;., dari sudut ini Kipli sebagai wakil dari Bapaknya yang pemuka agama mencoba untuk masuk ke dunia mereka dengan batasan-batasan yang coba dijelas-jelaskan, sehingga tidak ada lagi istilah MOLIMO dalam pergaulan mereka, cukup punk sebatas gaya &#8230; bukan budaya, punk memiliki potensi positif bukan blow up hal-hal negatif</p>
<p>di samping itu, gaya punk juga Kipli gunakan untuk mengimbangi dan antisipasi gangguan secara dhohir seperti palak atau pajak non-pemerintah, coz di daerah-daerah terpencil juga ada yang namanya Gangster&#8230; meski Jadul&#8230;, yang umumnya adalah kumpulan pemuda pengangguran dan iseng. Sehingga Kipli terpaksa naek motor tanpa Helm dengan memamerkan rambut dan gaya Punk nya</p>
<p>ooooo &#8230;. begitu ceritanya, yes i know</p>
<p><b>Nyumbang Pendapat&#8230; boleh yach .. ^_^</b><br />
Ironis memang, terlepas setuju dan tidak setuju dengan jalan Punk yang dilakukan oleh sodara kami Kipli. menurut hemat kami [ hehehe, gaya serius mode=ON ], contoh kasus ini banyak yang terlepas dari perhatian para akademisi atau pemuda yang beruntung dapat menikmati bangku kuliah bahkan tingkat sarjana tertinggi. Peran kita semua dibutuhkan di sini &#8230;</p>
<p>Lulus sekolah.. perhatian tertuju pada memilih tempat kuliah, Lulus kuliah.. perhatian tertuju pada mencari tempat bekerja&#8230;., ketika bekerja &#8230; perhatian tertuju pada pemenuhan target &#8221; kerja &#8230; [oh yach ada yg kelupa ... perhatian tertuju pada "MENIKAH"]</p>
<p><b>Adakah hubungannya dengan Sholat lima waktu?</b><br />
Yach&#8230; ada, [ hehehe... mekso jawabannya... ^_^ ], sekilas jawaban ini mungkin terlihat mekso.., namun jujur kami mengajak untuk memperhatikan siklus sholat lima waktu sejenak [ bukan bermaksud menggurui, namun lebih kepda berbagi saja..... OK !!! ].</p>
<p>Kegiatan Sholat lima waktu melatih seorang muslim untuk memiliki keshalihan dan kecerdasan sosial, ketika bangun pagi menatap dunia &#8230; dia ditantang untuk menyeimbangkan otak kanan dan kirinya, antara gerak hati, jiwa dan raganya &#8230; niat menghadap yang kuasa, kemudian dilanjutkan bekerja mencari bekal ibadah.</p>
<p>Ketika di tengah-tengah kesibukan, seorang muslim ditantang untuk meluangkan waktu &#8230; memanfaatkan ingatan &#8220;sampai di mana pekerjaan yang dilakukan&#8221; dan mengasah keihklasan &#8220;menghadap Sang Pencipta Alam&#8221;</p>
<p>Ketika di tengah-tengah kelelahan akan aktifitas seharian&#8230;, seorang muslim ditantang untuk memberikan perhatian &#8230; mengumpulkan sisa energi untuk &#8220;Berkonsentrasi&#8221;, menghadap Ilahi Robbi</p>
<p>Ketika Malam menjelang &#8230;., seorang muslim ditantang untuk mensyukuri&#8230; nikmat yang diberikan meski sebentar, menyambut malam yang ditinggal oleh penerang alam</p>
<p>ketika waktu istirahat kian mendekat&#8230;.., seorang muslim ditantang untuk mengucapkan salam dalam bentuk &#8220;shalat&#8221;, menutup hari&#8230; tanpa tahu apakah ajal benar-benar dekat&#8230; apakah subuh benar-benar dapat kembali dilihat&#8230;.</p>
<p><b>Maksudnya apa&#8230;???</b><br />
Maksudnya adalah &#8230; seorang muslim seharusnya terlatih dengan kompleksitas kehidupan, ditengah fokus pun juga diharapkan memiliki waktu luang untuk menengok ke kiri dan ke kanan, mengasah kepedulian. Boleh jadi seorang muslim adalah pejabat negara, saudagar besar, artis atapun sekedar seseorang yang sibuk mencari sesuap nasi &#8230;, namun perlu disadari kosenp shalat lima waktu mengajarkan manusia untuk &#8220;BERBAGI&#8221;&#8230;&#8230;. berbagi waktu, berbagi energi, berbagi pikiran, berbagi harta atau hanya berbagi senyuman &#8230;. meski sedikit</p>
<p>mari kita berbagi &#8230; perhatian untuk lingkungan kita&#8230;.. mereka butuh kita dalam kebersamaan<br />
semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p>Pasuruan, 26 September 2009</p>
<p>Caksyam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/ustadz-punk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika harta benar-benar menjadi titipan</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/ketika-harta-benar-benar-menjadi-titipan/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/ketika-harta-benar-benar-menjadi-titipan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 22:59:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini dimulai ketika beberapa bulan yang lalu kami bersilaturahmi, bertemu dengan teman lama. Sungguh selalu ada sesuatu yang berbeda&#8230;.. Di malam itu, temenku bercerita ttg seseorang kakek yang luar biasa, klo g salah dari jawa barat asalnya. Di usianya yang senja, kakek tersebut memegang teguh prinsip bahwa &#8220;semua berasal dari Yang Maha Esa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini dimulai ketika beberapa bulan yang lalu kami bersilaturahmi, bertemu dengan teman lama. Sungguh selalu ada sesuatu yang berbeda&#8230;.. Di malam itu, temenku bercerita ttg seseorang kakek yang luar biasa, klo g salah dari jawa barat asalnya. Di usianya yang senja, kakek tersebut memegang teguh prinsip bahwa &#8220;semua berasal dari Yang Maha Esa dan akan kembali kepadanya, semua harta adalah titipan dan hanya amal (perbuatan dan jariyah) serta do&#8221;&#8221;a yang akan turut serta&#8221;.<br />
<span id="more-16"></span></p>
<p>Kakek tersebut adalah pekerja keras, buktinya dari cerita yang ada, beliau mampu menantang dunia dengan mengubah jalur hidupnya dari jalan yang serba pas-pasan menjadi seorang pengusaha sekelas singa. Rumah mewah dan mobil tak kalah wah sudah ada di genggamannya. Putra-putrinya pun dididik dengan seksama, dengan pengalaman hidup dan kebijaksanaan yang ada.</p>
<p>Entah dengan cara apa&#8230;.???, suatu hari kakek tersebut diberikan hidayah atau sebuah petunjuk oleh Alloh SWT., sebagaimana kisah-kisah para Ulama yang sering kita dengar. Mungkin dengan kemampuannya menaruh dunia dalam genggaman dan akhirat dalam hatinya sebagai buah dari kedekatannya dengan Alloh, ia seakan-akan merasa dan tahu dengan penuh keyakinan bahwa ajalnya sudah dekat.</p>
<p>Langkah perisapan pun ia lakukan. Dimulai dari memperhatikan hak dan kewajiban terhadap sesama, ia usahakan untuk diselesaikan semua, apakah itu hutang, janji ataupun tanggungan yang terpikul dipundaknya. Kemudian dilanjutkan dengan membagi semua aset yang ia miliki kepada anak-anaknya serta beberapa wasiat untuk orang-orang di sekitarnya -termasuk sopir pribadi yang telah disiapkan untuknya sebuah rumah beserta isinya, sebagai wujud terimakasih atas pengabdiannya selama ini- dengan disaksikan semua pihak, supaya tidak terjadi fitnah dan perselisihan pada waktu sepeninggalnya kelak. &#8220;Datang tanpa membawa apa-apa, pulang tanpa membawa apa-apa&#8221;, itulah pesan yang ia berikan kepada semua kerabat dan keturuannya&#8230;, sontak pesan ini diiringi dengan isak tangis dan kesedihan yang mendalam.</p>
<p>Di akhir pertemuan keluarga, sang kakek pun berpesan &#8220;Saya akan pergi jauh&#8230; dengan pak sopir, menenangkan diri, mendekatkan jiwa dan mensyukuri segala apa yang telah diberi, Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan serta salam kepada seluruh family yang tidak hadir&#8230;., yang lebih penting mohon untuk tidak menyibukkan diri dengan kami, dalam proses ini&#8221;.</p>
<p>Sebagaimana pesan terakhir, keesokan harinya sang kakek berangkat dengan membawa uang secukupnya di antar oleh sopir pribadinya, tanpa diiringi oleh anggota keluarga. Di kesempatan itu, sang kakek meminta sopirnya untuk menuju ke daerah hutan yang sepi, dan kondusif untuk taqorrub ilalloh, jauh dari hiruk pikuk dunia&#8230;.</p>
<p>wush..wush..wush&#8230;., mobil mewah itupun melaju tenang dengan kecepatan sedang menuju daerah pegunungan,  setelah beberapa kilo masuk daerah hutan nan sepi, sang kakek melihat sebuah gubug jauh di belakang sebuah rumah yang sangat sederhana, yach &#8230; sangat sederhana dan jauh dari tetangga. &#8220;Stop&#8230;stop&#8230;., arahkan mobil ke halaman rumah itu pak sopir&#8230;&#8221; minta sang kakek, &#8220;Siap pak&#8230;&#8221;, sopir langsung banting setir belok ke halaman rumah yang ditunjuk.</p>
<p>sesaat kemudian pak sopir konfirmasi kepada pemilik rumah tentang gubug tersebut, dan akhirnya sang kakek dipertemukan dengan pemilik gubung. setelah beberapa saat ngobrol santai, sang kakek bertanya &#8220;Pak&#8230; saya sewa tanah beserta gubugnya di belakang rumah itu untuk sementara waktu, boleh yach&#8230;&#8221;, &#8230; pemilik rumah menjawab : &#8220;oh..g usah pak..monggo dipake saja, kami sekeluarga jarang sekali menggunakannya&#8230; silahkan2x&#8230;, santai saja&#8221;.</p>
<p>singkat cerita&#8230;<br />
Sang kakek memaksa untuk memberikan sejumlah uang, sebagai ucapan terimakasih (uang sewa sukarela)&#8230; dan luar biasanya, jumlah uang tersebut cukup untuk membeli rumah, gubug dan pekarangannya. setelah tu sang kakek juga membeli sebidang tanah tidak jauh dari gubug tersebut, di tanah kosong itu sang kakek meminta sopir untuk mengatur pembuatan tempat peristirahatan terakhirnya.<br />
Dari hari ke hari berjalan demikian sejuknya, wajah sumringah dan ketenangan terpancar dari wajah sang kakek, bahkan pemilik rumah pun merasa akan hadirnya anggota keluarga baru. Berselang sekitar empat puluh hari, sang kakek pun menghadap sang Khalik dengan persiapan yang begitu matang. Kabar inipun disampaikan kepada pihak keluarga dan handai tolan oleh Pak sopir, sontak suasana haru, sedih dan rasa kehilangan yang mendalam pun tak dapat disembunyikan. Semoga Alloh senantiasa mencurahkan rahmat dan maghfirohnya kepada hambanya yang mulia, amin.</p>
<p>semoga bisa diambil hikmah.<br />
Pasuruan, 24 September 2009,</p>
<p>caksyam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/ketika-harta-benar-benar-menjadi-titipan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syukur dalam gelas plastik</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/syukur-dalam-gelas-plastik/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/syukur-dalam-gelas-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 23:20:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Jam sudah menandakan pukul setengah sebelas malam di hari kedua lebaran 1430 H., sejenak kusempatkan melihat keluar, di depan rumah, keadaan jalanan begitu lengang, jauh berbeda dengan tadi siang ketika banyak sekali orang berlalu-lalang tuk bersilaturahmi dengan sanak famili. Akhirnya kunyatakan, open house hari ini dicukupkan sekian. bersama adek dan Ibu, kami mulai membersihkan ruangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jam sudah menandakan pukul setengah sebelas malam di hari kedua lebaran 1430 H., sejenak kusempatkan melihat keluar, di depan rumah, keadaan jalanan begitu lengang, jauh berbeda dengan tadi siang ketika banyak sekali orang berlalu-lalang tuk bersilaturahmi dengan sanak famili. Akhirnya kunyatakan, open house hari ini dicukupkan sekian. bersama adek dan Ibu, kami mulai membersihkan ruangan perjamuan, tak luput, gelas plastikpun turut dibersihkan &#8230; maklum jaman udah berubah, dulu minuman tamu dibuat seketika ketika tamu datang, baik berupa kopi, teh atau sekedar sirup buatan tangan dalam gelas bening ataupun cangkir, cukup untuk beberapa sruputan, menemani suasana hangat silaturahmi dengan perbincangan seru seputar keadaan famili. hmm, sekarang&#8230; cukup pesan air dalam kemasan dengan berbagai rasa yg ada, dalam kardus ato galon yang siap diisi ulang. <span id="more-12"></span><br />
Ketika gelas plastik itu kubersihkan, seketika ibuku bilang &#8220;Le&#8230;!!! (panggilan anak laki-laki di daerah kami-pasuruan), nanti gelasnya dikumpulkan yach, suatu hari kan ada yg ngambil&#8221;. Siapa bu &#8230;??, aku balik bertanya. Sambil bersama-sama membersihkan ruangan, ibuku bercerita &#8230; tempo hari ada seorang kakek, dia bekerja dengan mengumpulkan gelas plastik di pasar. Suatu hari dia (sang kakek) datang ke toko ibu sambil bertanya &#8220;ada gelas plastik g kepake g bu???&#8221;, lalu ibu carikan di sekitar rumah dan ada sekitar beberapa gelas. g banyak memang, namun ketika ibu serahkan, kakek itu berucap &#8220;Alhamdulillah yaaa Alloh 3x, maturnuwun bu 2x, smoga Alloh membalas dengan kebaikan yg setimpal&#8221;, lebih lanjut kakek itu kemudian bercerita bahwa dia berasal dari daerah yang cukup jauh dari daerah kami, dia datang dari pasar yang satu ke pasar yang laen untuk sekedar mengumpulkan gelas plastik guna memperoleh beras, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.<br />
Melihat kondisi yg sudah renta, ibu kemudian balik bertanya &#8230; &#8220;koq g nyoba profesi laen yg lebih ringan pak?&#8221;, sang kakekpun menjawab &#8220;profesi ini sudah cukup, profesi ini insyaAlloh sudah mampu menyelamatkan wajah kami di hadapan Alloh di hari akhir kelak&#8221;, dengan jawaban ini, ibupun bertanya, maksudnya pak?, bisa dijelaskan !, sang kakekpun kemudian melanjutkan jawabannya &#8220;Iya bu&#8230;, profesi ini sudah menghindarkan kami dari meminta-minta, mengemis atau keadaan terpaksa yang laen. Bukankah Nabi Muhammad pernah berpesan, bahwa orang yang meminta-minta (senantiasa berpangku tangan tanpa keinginan dan tindakan usaha semampunya) akan dibangkitkan di akhirat kelak dengan wajah yang kurang baik di hadapan Alloh SWT.&#8221;</p>
<p>Syukur dalam gelas plastik&#8230;<br />
Mungkin sekedar gelas plastik, mungkin hanya barang yg kurang berharga&#8230; namun siapa sangka justru hal-hal yg kecil seperti itu yang justru menjadi salah satu washilah dari tingginya derajat seorang hamba di hadapan Penciptanya. Ketika syukur terucap, ketika prinsip-prinsip kehidupan dipegang erat, ketika seorang hamba mampu menguasai nafsunya dan menerima serta berusaha dalam setiap sisi tantangan yang ada. Semoga Alloh senantiasa mengabulkan do&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;a yang kita panjatkan &#8230; di akhir shalat tarawih dalam setiap ramadlon kita,<br />
&#8230; &#8220;Wa bil qodlooo i roodliin, wa bin na&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;maaa i syakirin, wa &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;alal balaaa i shobirin&#8221; &#8230;  menjadi seorang muslim yang kuat &#8230;. dengan ridlo terhadap segala keputusan Alloh, dengan syukur terhadap Nikmat&#8221; Alloh dan dengan sabar dalam setiap cobaan yang diberikan oleh Alloh.<br />
ridlo, syukur dan sabar &#8230; </p>
<p>Pasuruan, 23 September 2009<br />
Caksyam </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hikmah/syukur-dalam-gelas-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana jika lupa berdo&#8221;&#8221;a sebelum makan?</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/hadits/bagaimana-jika-lupa-berdoa-sebelum-makan/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/hadits/bagaimana-jika-lupa-berdoa-sebelum-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 14:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksyam.myblogrepublika.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah atas izin Yang Maha Esa, hari ini kami berkesempatan untuk mewujudkan cita-cita, yakni berbagi dengan saudara-saudara tentang banyak hal. Pada kesempatan kali ini kami akan menyampaikan tentang sebuah hadits &#8220;Bagaimana jika lupa berdo&#8221;a sebelum makan?&#8221;
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda &#8220;Jika salah seorang di antara kamu bersantap, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah atas izin Yang Maha Esa, hari ini kami berkesempatan untuk mewujudkan cita-cita, yakni berbagi dengan saudara-saudara tentang banyak hal. Pada kesempatan kali ini kami akan menyampaikan tentang sebuah hadits &#8220;Bagaimana jika lupa berdo&#8221;a sebelum makan?&#8221;<br />
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda &#8220;Jika salah seorang di antara kamu bersantap, maka ucapkanlah asma Alloh Ta&#8221;ala, dan apabila ia lupa mengucapkan asma Alloh pada awalnya maka hendaklan ia ucapkan <em>Bismillahi &#8221;ala awwalihi wa akhirihi</em>&#8220;.<br />
Dari hadits tersebut di atas, Rasululloh menganjurkan kepada kita semua untuk senantiasa bersyukur dan mengingat Alloh atas segala anugerahnya pada rezeki yang kita santap. Jikalau kita terlupa maka kita bisa mengucapkan &#8220;Bismillahi &#8221;ala awwalihi wa akhirihi&#8221; yang artinya dengan menyebut asma Alloh pada awal dan akhirnya [kegiatan bersantap]. Semoga segala anugerah menjadi berkah, dan senantiasa diliputi dengan cahaya do&#8221;a berbuah ketenangan jiwa. amin, semoga bermanfaat.<br />
<em>Sumber : kitab mukhtarul ahadits an-nabawiyyah karya sayyid ahmad alhasyimi rahimallohu &#8221;anhu.</em><br />
Pandanaran-Yogyakarta, 11 Agustus 2009<br />
Caksyam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/hadits/bagaimana-jika-lupa-berdoa-sebelum-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Caksyam on Myblogrepublika</title>
		<link>http://caksyam.myblogrepublika.com/blog/hello-world/</link>
		<comments>http://caksyam.myblogrepublika.com/blog/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 23:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksyam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[myblogrepublika]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah..., inilah yang ingin sekali kuungkapkan saat ini (6:59-14/07/2009).  Serasa gayung bersambut, keinginanku untuk berbagi tentang sisi laen kehidupanku dalam hal keislaman akhirnya memperoleh kemudahan.  Myblogrepublika seakan menjadi sebuah jawaban. Jujur beberapa hari ini  aku merasa ada yang mengganjal, buah pikiran dan pengetahuan seakan-akan tak tahan untuk keluar dan menyambut kehidupan, senantiasa terngiang dalam benakku salah satu kata-kata indah yang diungkapkan sahabatku Yuli andriyansah bahwa "Dakwah saat ini tidak harus melalui pesantren". Yach... tidak harus punya pesantren untuk berbagi dan mengambil peran dalam memajukan umat manusia dari sisi pengetahuan atau pendidikan. Dunia maya melalui teknologi Blognya cukup mengakomodir bagi siapa saja yang ingin membagi ilmunya dan siapa saja yang ingin melampiaskan "nafsu" keingintahuannya. cukup cari di search enging semisal google.com, yahoo.com, altavista.com dan lain sebagainya. Semua semakin dipermudah, semua semakin indah. Subhanalloh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah&#8230;, inilah yang ingin sekali kuungkapkan saat ini (6:59-14/07/2009).  Serasa gayung bersambut, keinginanku untuk berbagi tentang sisi laen kehidupanku dalam hal keislaman akhirnya memperoleh kemudahan.  Myblogrepublika seakan menjadi sebuah jawaban. Jujur beberapa hari ini  aku merasa ada yang mengganjal, buah pikiran dan pengetahuan seakan-akan tak tahan untuk keluar dan menyambut kehidupan, senantiasa terngiang dalam benakku salah satu kata-kata indah yang diungkapkan sahabatku Yuli andriyansah bahwa &#8220;Dakwah saat ini tidak harus melalui pesantren&#8221;. Yach&#8230; tidak harus punya pesantren untuk berbagi dan mengambil peran dalam memajukan umat manusia dari sisi pengetahuan atau pendidikan. Dunia maya melalui teknologi Blognya cukup mengakomodir bagi siapa saja yang ingin membagi ilmunya dan siapa saja yang ingin melampiaskan &#8220;nafsu&#8221; keingintahuannya. cukup cari di search enging semisal <a href="http://google.com">google.com</a>, <a href="http://yahoo.com">yahoo.com</a>, <a href="http://altavista.com">altavista.com</a> dan lain sebagainya. Semua semakin dipermudah, semua semakin indah. Subhanalloh.<br />
<span id="more-1"></span><br />
Apa yang akan kubagi disini?</p>
<p>Sebagaimana diungkapkan di awal, beberapa hari ini muncul dalam hatiku keinginan kuat untuk mendokumentasikan beberapa hikmah dalam hadist yang kami pelajari. Baik dari guru semasa sekolah, kuliah maupun dari pesantren dan temen-temen sebaya, bahkan sampai pada hasil dari kami membaca dan menelaah. oleh karenanya, kami sangat berharap masukan dan bimbingan dari para Ustadz dan Kyai, teman-teman dan kolega sekalian di dunia maya untuk senantiasa memberikan masukan agar tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini menjadi benar-benar bermanfaat dan dijauhkan dari madharat. dapat diterima oleh semua kalangan bahkan dapat mempersatukan..bukan malah menciptakan atau bahkan menyuburkan permusuhan.</p>
<p>Blog ini merupakan blog kesekian kalinya yang aku publish di dunia maya, bukan serakah namun untuk menjaga fokus pembahasan dan agar lebih tepat sasaran. Blog ini mengiringi beberapa blog pribadi lainnya seperti <a href="http://caksyam.com">caksyam.com</a> yang aku fokuskan dalam pembahasan umum dan dunia IT, <a href="http://caksyam.pasuruan.org">caksyam.pasuruan.org</a>, yang lebih fokus membahas tentang pengembangan daerah dan terakhir adalah blog <a href="http://nambas.wordpress.com">nambas.wordpress.com</a> yang merupakan blog pertamaku yang sampai saat ini masih gado-gado, hehe.</p>
<p>semoga yang sederhana ini bisa menjadi jalan berkah dari Yang Maha Esa. Amin. salam kenal dari caksyam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caksyam.myblogrepublika.com/blog/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
