Pedagang itu adalah kita …
Caksyam-Jogjakarta (14/01) : Matahari mulai terik. Jam di HP menunjukkan pukul 06.10 wib. Doa “kalamun” dilantunkan, pertanda pengajian sehabis shubuh berakhir. Kami pun, para santri, turun dari masjid, kembali ke guthekan (kamar) masing-masing. Krucuk …., Krucuk …., Krucuk …. tanpa sengaja, perut memberikan sinyal positifnya untuk segera ditunaikan haknya, yach … “sarapan pagi”.
Akhirnya aku berinisiatif untuk membeli sarapan. “Prend … ada yang mo nitip gak?, aku mo sarapan neh…”, aku membuka percakapan tuk mengajak temen-temen santri mengisi amunisi tuk kegiatan selama seharian, yach … kebetulan hari itu adalah hari libur, jadi suasana lebih terlihat santai.
Ke pasar naek sepeda onthel yuk …!!!, Sholahudin, salah seorang temanku mengajak menikmati pagi dengan bersepeda sembari menuju pasar tuk beli makanan sarapan. Okey…., aku pun mengiyakan, dalam hatiku berujar … asyik juga neh, dah lama gak bersepeda dan jalan-jalan menikmati suasana sekitar pesantren yang notabene masih banyak tumbuhan hijau dan terkesan lekat dengan suasana desanya.
Berempat kami berangkat, berconcengan dengan menggunakan 2 (dua) sepeda onthel. Tidak jauh dari pesantren, kami temukan beberapa hal baru, yach … di pinggir-pinggi jalan yang teduh dengan pohon rindangnya terdapat beberapa ibu rumah tangga jualan makanan khas jogja, Gudeg. Sempat ku hitung, sekitar 2-4 pedagang menjajakan masakannya di sepanjang jalanan ke pasar. hmm … meski belum pernah sekalipun aku membeli dari satu di antaranya.
Sekilas aku tersenyum dan bangga dengan mereka, Ibu-ibu rumah tangga. Mereka memasarkan produk masakan lokal yang khas. Berusaha membantu perekonomian keluarga, memanfaatkan waktu di pagi hari sekaligus menyiapkan sarapan untuk orang-orang seperti kami, yang cukup membutuhkan. Maklum kami adalah anak-anak perantauan yang sedang belajar. … sedetik kemudian, terbesit dalam hatiku …, mungkin esok hari aku akan beli sarapan di beberapa tempat yg kulewati. yach …, selain memenuhi kebutuhan sendiri juga saling membantu dengan saudara, dan bangsa sendiri.
Di kala itu juga, aku jadi teringat dengan pesan habib syeikh dalam sebuah kesempatan pengajian, “Yuk … dahulukan membeli barang dari saudara, sahabat, tetangga dan bangsa kita sendiri. Berikan mereka kesempatan untuk hidup, berikan kepercayaan sebagian dari kebutuhan kita kepada mereka, karena mereka bekerja untuk anak-anak mereka, yang nota bene adalah keponakan kita …., sepupu kita …, sahabat kita dan bangsa kita sendiri …”.
Ungkapan ini tidak serta merta datang begitu saja. Lebih lanjut beliau (habib syeikh) menjelaskan tentang keprihatinannya yang bermula dari keluhan beberapa pedagang kecil. Di antara mereka ada yang gulung tikar, kalah saing dengan supermarket besar, di antara mereka ada yg penghasilan merosot tajam akibat produk impor dalam jumlah besar. Padahal ,… barang-barang mereka tidak kalah baik, hanya … tertinggal dari “Brand Image” dan iklan-iklan. Bukankah … barang-barang di pasar lebih murah?, bukankah barang-barang di pasar lebih alami?, bukankah barang-barang di pasar bisa ditawar ….? dan yang lebih penting, bukankah barang-barang tersebut dijual untuk memberi makan bagi adik, keponakan, saudara dan sahabat kita?, mari renungkan dan mantabkan hati bersama. Pedagang itu adalah kita. yach … dari kita untuk kita, bukan untuk yg lain.
Nabi pun berpesan, bahwa muslim dan muslim lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan. Saling menguatkan, saling mendukung dan saling melindungi. Kalau tidak mulai dari sendir, dari sekarang …. kapan lagi. Ayo … kobarkan semangat bisnis/dagang, dukung sodara kita yg sedang berjuang mempertahankan kehidupan. Beli dengan memprioritaskan ukhuwah serta persaudaraan. Karena kita sendirilah yang diuntungkan.
Bukankah kita akan bangga, jika kita, saudara kita, tetangga kita, adik kita bangsa kita …. menjadi orang-orang yang kaya, atau paling tidak berkecukupan?, jika jawaban kita adalah “YA”, maka … mari mulai bersama-sama berjuang dari sekarang, menyisihkan gengsi dan ego kita dengan memprioritaskan pembelian produk-produk lokal/nasional.
Semoga menjadi bahan perenungan. Umat islam harus kaya …., bangsa Indonesia harus kaya …., hingga mereka semua memiliki bekal yang cukup untuk beribadah.